| Perjalanan Hidup Manusia | ||
| Oleh : Nurlaila Zahra | ||
|
Manusia hidup dengan jalan hidupnya masing-masing. Ada yang kuliah,
ada yang kerja, bahkan ada pula yang pengangguran. Ada yang kaya, ada
yang sederhana, bahkan tidak sedikit pula mereka yang miskin. Jalan
hidup memang merupakan kapasitas dan kadar kemampuan dari seorang hamba
yang telah Allah berikan untuknya. Orang kaya di uji dengan
kekayaannya, dan orang miskin di uji dengan kemiskinannya. Dengan segala
perbedaan ujian itu, dapat dipastikan bahwa kapasitas dan kadar
kemampuan seorang hamba pun juga berbeda-beda.
Banyak
yang mengira bahwa menjadi kaya itu pasti menyenangkan. Tapi tak
sedikit pula orang yang hartanya berlimpah justru kecemasannya berlebih
dari orang yang kurang mampu. Cemas akan hartanya yang takut
kehilangan, cemas akan kenikmatan duniawi yang dapat membuatnya lalai
akan adanya Allah, dan cemas apabila dia mati nanti, dia akan
meninggalkan hartanya yang tidak sedikit jumlahnya. Kecemasan-kecemasan
seperti itulah yang akhirnya membuat banyak orang kaya menjadi stress.
Banyak, atau mungkin hampir semua orang yang
kurang mampu, berharap bisa menjadi orang kaya. Bisa kerja, kuliah,
mempunyai hand phone terbaru, memiliki banyak uang, selalu punya sepatu
dan baju baru, dan segala kenikmatan-kenikmatan duniawi yang
sebenarnya semua itu hanyalah teman sesaat kita di kala hidup di dunia
ini. Setelah itu, tak dapat lagi mereka menemani kita di kehidupan
selanjutnya. Hanyalah sebuah kain kafan berwarna putih, pakaian agung
dari yang teragung, yang akan kita gunakan untuk menghadap Allah swt.
Jangan
mengira memiliki semua kemewahan itu bisa membuat kita bahagia.
Biasanya kemewahan itu hanyalah modal utama dari rasa keserakahan kita
untuk memonopoli diri kita sendiri. SADARLAH! Mungkin semua itu bukan
yang terbaik untuk kita. Bisa saja kemewahan itu akan membuat kita lupa
akan adanya Allah, akan adanya alam akhirat, akan adanya surga dan
neraka, sehingga kita lalai akan kewajiban-kewajiban kita sebagai umat
Nabi Muhammad saw.
Jangan pernah mengutuk diri
sendiri jika kita terlahir sebagai seorang yang tidak berada. Sebab
bisa jadi, yang sedikit itu mungkin bisa membawa kita pada keberkahan,
membawa kita pada kebaikan, dan membawa kita pada ketenangan. Bisa jadi
yang sedikit itu adalah amal untuk kita sebagai hamba yang selalu
berucap syukur pada Allah swt di setiap keadaan. Insya Allah.
Dari
Abu Abdurrahman Abdullah bin Mas'ud ra. berkata, Rasulullah bersabda
kepada kami, sedang beliau adalah orang jujur dan terpercaya,
"Sesungguhnya setiap kalian dikumpulkan penciptaannya dalam rahim
ibunya selama empat puluh hari berupa nutfah (sperma) kemudian menjadi
‘alaqah (segumpal darah) selama waktu itu juga kemudian menjadi mudghah
(segumpal daging) selama waktu itu pula, kemudian Allah mengutus
malaikat untuk meniupkan roh kepadanya dan mencatat empat perkara yang
telah ditentukan yaitu rizki, ajal, amal perbuatan, dan sengsara atau
bahagianya.
Maka demi Allah yang tiada
Tuhan selainNya, sesungguhnya ada seseorang diantara kalian beramal
dengan amalan penghuni surga, sehingga tidak ada jarak antara dirinya
dengan surga kecuali sehasta saja, namun ketetapan (Allah)
mendahuluinya, sehingga ia beramal dengan amalan ahli neraka, maka ia
pun masuk neraka.
Ada seseorang
diantara kalian beramal dengan amalan penghuni neraka, sehingga tidak
ada jarak antara dirinya dengan neraka kecuali sehasta saja, namun
ketetapan (Allah) mendahuluinya, sehingga ia beramal dengan amalan
penghuni surga, maka ia pun masuk surga" (HR. Bukhari dan Muslim)
Yakinlah
pada diri sendiri. Rizki, jodoh, dan kematian sudah ditentukan oleh
Allah. Kita sebagai hambaNya hanya tinggal menjalani tanpa terlepas
dari ikhtiar, do'a, dan tawakkal padaNya, sesuai dengan jalan hidup
kita masing-masing.
| ||
Kamis, 01 Desember 2011
hidup berarti
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar